Dela Luthu

Just another dagdigdug.com weblog

Poligami versi Dela ^-^

Filed under: Uncategorized — dela at 11:45 am on Thursday, August 28, 2008

Bicara tentang poligami emang gak ada habisnya. Setelah kemarin membahas salah seorang rekan guru yang belum menikah, akhirnya pembicaraan berlanjut kepada poligami. Dari 4 peserta hanya saya yang pro poligami, yang lain tidak sependapat dengan saya (kata mereka otak saya korslet).

Saya yakin bahwa pria adalah makhluk yang tidak dapat meletakan cintanya untuk seorang wanita saja. Berdasarkan survei saya selama ini, sebagian besar pria mengatakan “saya cinta si A, si B dan si C” dan akhirnya survei tersebut menjadi salah satu kesimpulan saya mengenai pria. Dalam pemikiran saya “dari pada selingkuh ya nikah lagi aja“.

Dulu saat sinetron Munajah Cinta baru mulai, saya sempat berfikir “seneng kali ya kalau sahabat saya yang jadi madu-nya“. Aneh muingkin kalau saya menginginkan sahabat saya yang menjadi madu, dari dulu saya sering bilang persahabatan lebih penting dari cinta. Sayangnya selera saya dan sahabat saya tidak pernah sama. Pria  yang saya taksir gak pernah dibilang ‘bermutu’, saya juga gitu pria yang ditaksir sama sahabat saya tidak pernah ada yang sesuai dengan tipe saya :-)

Sybil

Filed under: Book — dela at 9:29 am on Wednesday, August 27, 2008

Saat perkuliahan Akta IV dengan Ibu Siti Nurhidayah salah seorang teman saya menanyakan tentang kasus sybil yang memiliki kepribadian majemuk. Saya sendiri lupa bagaimana awalnya sampai wacana mengenai kepribadian majemuk dimulai, namun hal ini membuat saya bertanya-tanya “siapa Sybil” , dan ada satu nama lagi yang disinggung yaitu Billy.

Baru-baru ini saya mengunjungi perpustakaan sekolah, disalah satu sudut terdapat buku-buku baru hasil sumbangan dari angkatan 2005. Awalnya saya tidak tertarik untuk meminjam buku, namun pada saat petugas perpustakaan hendak menyampulkan buku saya melihat sebuah buku berjudul Sybil, dan saya pulang dengan meminjam buku Sybil.

Dari bukunya saya mengetahui bahwa buku ini telah dicetak dinegaranya (Amerika) sejak tahun 1973 dan baru diterjemahkan dalam bahasa Indonesia tahun 1984. Buku yang saya baca adalah cetakan ke-14. Sybil Isabel Doroset dikisahkan sebagai perempuan berusia 31 tahun memiliki berat badan 39kg dan tinggi 158cm termasuk ukuran yang tidak biasa dalam masyarakat Amerika. Pada awal cerita dikisahkan bahwa Sybil dikeluarkan dari akademi dan tidak diizinkan kembali hingga psikiater menyatakan dia sembuh, padahal pada saat itu sybil sendiri tidak mengetahui apa yang terjadi padanya, dia hanya merasa ada banyak waktu yang hilang. Kemudian Sybil bertemu dengan Dr. Cornelia Wilbur disalah satu klinik dikota kelahiran Sybil, pengobatan berjalan selama 3 tahun namun ketika suatu hari pada hari konseling Sybil tidak dapat pergi karena sakit, Ibu Sybil (Hatie Doroset) menelepon dokter untuk kemudian mengatakan Sybil tidak dapat kesana hari itu. Namun yang sebenarnya terjadi adalah Hatie tidak pernah menelepon Dr. Wilbur, dan Sybil pun menganggap telepon hari itu tersambung dengan Dr. Wilbur. Dihari kunjungan berikutnya Sybil baru mengetahui kalau Dr. Wilbur telah mengambil studi untuk bidang psikoanalisis.

Bertahun kemudian setelah Ibu Sybil meninggal, Sybil memutuskan untuk pindah ke kota tempat Dr. Wilbur praktek untuk melanjutkan terapinya. Pada awal terapi tidak ada yang istimewa terjadi, namun setelah waktu yang cukup lama, sebuah pribadi Sybil muncul, di bernama Paggy Ann. Paggy Ann merupakan sisi lain Sybil yang dapat mengungkapkan kemarahan Sybil. Sementara Paggy Ann muncul Sybil mengalami fuga (ini lah yang disebut Sybil sebagai waktu yang hilang). Setelah itu pribadi-pribadi yang lain mulai bermunculan, Vicky, Paggy Ann, Paggy Lou, Marry, Marcia, Vannesa, Mike, Sid, Ruthie, Marjorie, Helen, Clara, Sybil Ann, The Bonde.

Kepribadian majemuk Sybil mengherankan Dr. Wilbur karena kasus kepribadian ganda (2 sosok pribadi) jarang ditemui, apalagi kepribadian majemuk yang dialami oleh Sybil. Wilbur mencoba menganalisis mengapa Sybil bisa menjadi sosok pemurung, penyendiri, penakut, cepat putus asa, membenci tangan, membenci suara musik, takut memegang gelas, dan tak menyukai perempuan berambut putih.

Pusat kebencian itu pun ditemukan: sang ibu. Hattie menganggap Sybil sebagai anak setan. Pada mulanya, Hattie dan Willard mengharapkan kehadiran anak, tapi selalu keguguran. Saat ia tak berharap punyaanak, Sybil justru lahir. Setiap hari, Hattie tak pernah melepaskan Sybil pergi sendirian kecuali ke sekolah. Sybil menuruti semua perintah sang ibu. Ketika Sybil memecahkan gelas, Hattie pun dengan ringan melayangkan tangannya.

Saat Sybil menangis, Hattie mengikatnya di kaki piano dan ibunya memainkan musik dengan sangat keras. Dan ini yang menggiriskan, perempuan berambut putih itu menggelar upacara tiap pagi: membuka vagina sang anak dan memasukkan dengan paksa bermacam-macam benda yang melintas di benaknya–botol kecil, lampu baterai, gagang pisau, gesper dan bahkan sepatu sang anak. Hal ini dikemudian hari menghasilkan analisis bahwa kandungan Sybil sudah rusak dan dia tidak akan bisa memiliki anak.
“Kau nanti akan terbiasa,” kata ibu. “Itulah yang akan dikerjakan laki-laki kepadamu kalau kau dewasa. Mereka memasukkan benda-benda ke dalam badanmu dan mereka menyakitimu dan kau tidak bisa menghentikan mereka. Kalau mereka sudah bosan dengan satu perempuan, mereka cari yang lain. Jadi saya harus mempersiapkanmu.”

Ayah Sybil sendiri tidak pernah mengetahui apa yang telah istrinya perlakukan terhadap anak mereka. Ayah Sybil adalah seorang tukang bangunan sukses dikota mereka, bahkan ketika puncak kesuksesannya mereka dinyatakan sebagai orang terkaya dikota. Namun ada beberapa saat yang seharusnya dicurigai oleh sang Ayah namun tidak pernah digubrisnya, misal pada saat tulang lengan Sybil bergeser akibat dilempar Hatie kediding, atau katika sebuah plastik masuk kedalam lubang hidung Sybil, atau ketika Sybil hampir mati terbenam dilumbung gandum milik mereka (sedang tempat penyimpanan gandum terdapat diatas yang dapat dicapai melalui tangga geser, dan tidak mungkin seorang anak 3 tahun dapat mencapai tangga geser tersebut). Ada kesan bahwa sang ayahpun tidak perduli dengan keadaan Sybil.

Permasalahan kebiasaan masyarakat dikota tersebut juga ikut andil pada pecahnya kepribadian Sybil, masyarakat menganut Kristen fanatik, rajin ke gereja, namun pada saat yang bersamaan sering menggunjingkan orang lain dan merendahkan mereka yang berkulit hitam.

Alur carita buku ini Maju-Mundur, beberapa kali saya harus kembali membaca bab sebelumnya. Entah gaya penulisan si pengarang atau terjemahannya, namun saya merasa bahasa yang digunakan sedikit kaku (kurang nyaman dibaca). Namun lepas dari kekurangan buku ini saya menilai buku ini sangat baik untuk dibaca, banyak kisah yang akan menjadi pelajaran untuk para orang tua maupun individu.

Pencarian….

Filed under: Uncategorized — dela at 12:02 pm on Tuesday, August 12, 2008

Tugas pertama untuk kelas XII adalah membuat website dengan bahasa HTML. Sebenarnya materi ini tidak ada dalam kurikulum standar isi yang diberikan pemerintah, namun anehnya selama saya menjadi guru dan melihat soal Ujian Sekolah (yang soal-soalnya dibuat oleh pemerintah) bahasa HTML dijadikan soal, walaupun bobotnya tidak besar. Mulai tahun ajaran 2007-2008 saya memasukan materi html untuk anak kelas XII.

Tahun kemarin setelah saya memberikan tugas pembuatan website, saya menemukan ada satu anak mengerjakan tugasnya dengan sangat baik. Saya sempat berpikir bahwa anak ini tidak mengerjakan dengan editor yang saya perintahkan. Namun setelah saya memeriksa syntax web-nya, dapat saya katakan bahwa anak ini mengerjakan web-nya dengan memasukan syntax html saecara manual.

Sebenarnya dengan tugas pertama ini saya sudah melakukan seleksi awal untuk lomba komputer tahunan yang diadakan YADIKA. Memang kelihatannya agak sedikit berlebihan mengingat lomba baru dilaksanakan pada bulan februari namun saya berfikir, untuk anak tingkat SMA yang belum pernah membuat halaman web (bahkan ada yang belum pernah buka web) persiapan ini tidak berlebihan. Tahun kemarin sebenarnya agak keteter dengan jadwal seleksi dan lomba yang hanya 3 minggu, untungnya pelaksanaan ditunda hingga akhir februari.

Saya sebenarnya sangat menantikan bakat yang terlihat dari tugas ini, jadi ingat waktu pertama memeriksa tugas Hanggara, rasanya seperti menemukan mutiara yang terpendam (hiperbola). Hingga hari ini baru 6 kelas yang menyerahkan tugas, masih ada 5 kelas lagi. Tugas yang dikumpulkan dari kelas “unggulan” masih terasa standar buat saya, namun ini bukan jaminan mengingat anak yang saya temukan bakatnya kemarin bukan dari kelas “unggulan”. Mudah-mudahan ya ada anak angkatan tahun ini yang berbakat di coding

Gratisan Xl

Filed under: Uncategorized — dela at 8:23 am on Monday, August 11, 2008

Akhir-akhir ini banyak promo dari provider penyedia layanan telepon seluler. Saya sendiri sudah memakai xl sejak tahun 2001. Salah satu promo yang dilakukan xl adalah nelepon gratis dari jam 00:00 s.d. 06:00. Dapat dikatakan bahwa hal ini menguntungkan sebagian pelanggan xl yang sering melakukan percakapan pada jam tersebut. Tapi sialnya belakangan ini setelah jam 00:00 ada telepon yang masuk ke hp saya. Gak ngerti kepentingan apa orang yang menelepon itu, tapi buat saya sangat mengganggu. Pernah satu telepon yang saya angkat mengatakan ingin menawarkan investasi tanah, ada lagi yang ingin ngobrol (padahal gak kenal), ada lagi yang cuma pengen denger saya ngomong . Sangat menyebalkan….

Hotel Rwanda

Filed under: films — dela at 8:28 am on Friday, August 8, 2008

Pertama kali saya dengar judul film ini dari oprah winfrey show, katanya film ini diangkat dari kisah nyata. Referensi bisa didapat dari sini.

Karena menyaksikan film tears of The Sun jadi inget film ini. Waktu liburan kemarin RCTI menayangkan Hotel Rwanda (perdana ditayangkan di TV). Ya akhirnya dibela-belain nonton sampai jam setengah 2 pagi. Dipostingan saya sebelumnya saya katakan bahwa saya bukan penggemar film perang , namun pesan kemanusiaannya yang saya cari. Kesimpulan yang dapat saya tarik ada dua. Pertama, perang dalam bentuk apapun (fisik, ideologi, dst) tidak saya sukai, namun jika memang diperangi berarti saya harus ikut berperang. Yang kedua, … ternyata saya senang nonton film ya :)

Membunuh atau dibunuh

Filed under: films — dela at 9:27 am on Wednesday, August 6, 2008

Tadi malam saya menyaksikan sebuah film yang ditayankan di salah satu stasiun televisi, Tears of the sun. Sebenarnya dari dulu saya kurang suka film perang dan Tears of the sun sendiri sudah sering ditayangkan dan saya tidak pernah menyaksikannya. Tapi tadi malam karena menuggu (rumah) ibu saya yang sedang pergi ke suatu acara saya iseng putar chanel televisi, semua acara yang ditayangkan tidak menarik untuk saya, entah sudah beberapa putaran saya lakukan. Sampai akhirnya saya jenuh dan menghentikan chanel di trans tv.

Karena nontonnya pas pertengahan jadi yang bisa saya tangkap dari film itu adalah suasana penyelamatan seorang dokter yang berkerja disalah satu negara di Afrika karena ada kudeta besar-besaran (pergantian rezim oleh pemberontak). Sang dokter tidak mau mengikuti tentara Amerika yang ditugaskan untuk menyelamatkan sang dokter karena dia tidak ingin pasiennya ditinggalkan dalam kondisi peperangan. Ahirnya para tentara, sang dokter dan para pengungsi berencana untuk meninggalkan negaranya melalui hutan. Ditengah perjalanan mereka melihat sebuah perkampungan sedang mengalami penyerbuan oleh tentara pemberontak, pemimpin tentara memerintahkan agar pasukannya bergerak untuk menolong warga yang diserang dengan serangan diam-diam. Singkat kata para pemberontak dapat “dihabisi” oleh tentara Amerika itu. Disinilah terdapat adegan yang menyayat hati, dikisahkan seorang ibu sedang menghadapi sakratul maut akibat payudaranya dipotong oleh tentara pemberontak, salah satu pengungsi mengatakan bahwa hal itu dilakukan agar sang ibu tidak dapat menyusui anaknya (digambarkan bayi si ibu tersebut sudah terbujur kaku, salah satu tentara Amerika meletakkan sang bayi disamping ibunya).

Miris… Dalam hati saya bertanya “sekejam itukah perang?” entah berapa banyak kebencian yang dimiliki oleh tentara pemberontak sehingga begitu tega melakukan hal sekeji itu. Tidak habis pikir jikalau masih ada orang/ negara yang sangat menginginkan perang saat ini. Saya adalah orang yang tidak begitu suka dengan perbedaan, jika ada orang lain berbeda pendapat saya cenderung diam dan tidak mau memulai perdebatan antara apa yang diyakini oleh orang itu dan apa yang diyakini oleh saya (kecuali masalah ketuhannan). Sempat terlintas pertanyaan “mengapa Allah tidak menciptakan umatnya tanpa perbedaan” namun dari apa yang saya tahu Rasulullah Muhammad saw sendiri pernah meminta agar umatnya dijauhkan dari perpecahan, dan menurut riwayatnya permintaan ini tidak dikabulkan oleh Allah swt.

Digambarkan pula pada akhir film tersebut, tentara Amerika diserang oleh tentara pemberontak yang jumlah dan amunisinya lebih banyak. Walaupun akhirnya tentara Amerika yang menang (seperti cerita lainnya) saya masih bertanya-tanya “jika saya dihadapkan dengan situasi tersebut, apakah saya bisa membunuh?” Jujur saya adalah orang yang penakut, jangankan manusia semut hitam (yang kalo gigit bentol-nya segede tutup botol) tidak berani saya bunuh. Dulupun sempat saya tidak berani menepuk nyamuk yang menggigit (sekarang sih tega, setelah bayak demam berdarah). Apa iya saya mampu membunuh? Jika saya boleh untuk tidak menjawab, saya tidak akan menjawab. Namun jika dihadapkan dengan pilihan dan situasi tersebut maka saya pilih membunuh.

Ahirnya….

Filed under: Uncategorized — dela at 8:22 am on Wednesday, August 6, 2008

Sejak sekolah mulai berjalan tanggal 14 juli kemarin saya mengalami sebuah kebinggungan. Memang ketika liburan saya sama sekali tidak membuka-buka internet yang akhirnya saya buka tanggal 14 (waktu masuk sekolah). Ketika saya buka dagdigdug.com ada yang aneh. Disaat saya membuka halaman utama dagdigdug.com textbox untuk mengisi user name dan password tidak muncul, padahal sudah saya tunggu lama. Berkali-kali saya coba namun textbox tersebut tidak juga muncul.

Setelah berminggu-minggu tidak dapat mengakses saya coba buka email saya dan saya cari email yang diberikan dagdigdug untuk komentar yang masuk. Setelah di klik link you can see all coments on this post here barulah saya masuk kedalam halaman verifikasi kedua dari dagdigdug, dan textboxnya muncul (horeeeee).

Saat pertama daftar saya juga binggung, kenapa ada dua kali verifikasi untuk masuk kedalam account saya di dagdigdug … entahlah. Tapi yang penting saya sudah bisa ngeblog lagi :-)

Komentar

Filed under: Uncategorized — dela at 11:14 am on Wednesday, June 25, 2008

Beginilah bloger pemula. Beberapa kali komentar yang datang diblog ini diberitakan melalui email, karena terbiasa dengan blog friendster saya pikir cara kerja penerimaan komentar tersebut sama dengan dagdigdug.com ini. Sampai ahirnya saya bingung sendiri “komentar yang dikabari lewat email kok gak ada diblog ya?”.
Padahal buat saya komentar-komentar ini sangat menyemangati saya untuk menulis. Buat saya menulis adalah salah satu cara agar saya dapat “didengar”. Semua orang yang mengenal saya sepakat mengatakan dengan suara bulat sebulat semangka bahwa saya adalah orang yang pendiam.
Ada beberapa orang yang memberikan komentar di blog ini. Yang pertama adalah a’donny, sahabat saat kuliah ini adalah inspirator saya dalam membuat blog, mengingat saya tidak kenal sama sekali istilah blog. Pertanyaan “apa sih blog itu?” muncul ketika saya menerima email dari friendster “donny has update his blog”. Lambat laun saya mulai membaca tulisan-tulisan a’donny, yang paling saya suka adalah tulisannya berjudul segelas teh hangat, sampai-sampai tulisan ini saya copy lalu saya print, kemudian saya meminta anak mading Yadika untuk menempelkan dimading sekolah. Dan ketika saya mulai mencoba-coba membuat blog di friendster, a’donny lah yang pertama memberikan komentarnya, demikian juga di blog ini.
Lalu ada frisma, orang kedua yang memberikan komentarnya diblog ini. Frisma adalah salah satu murid saya di SMA Yadika 8, tahun ini dia lulus dengan nilai yang cukup baik. Frisma memberikan komentarnya untuk tulisan saya “bukan guru yadika” yang sekarang saya private karena saya takut dibaca oleh pimpinan yadika (kenyataannya para pemimpin kita belum siap untuk dikritik dan saya juga belum siap untuk dipecat :P ). Komentarnya sederhana namun dapat menelan seluruh kemarahan saya pada saat itu. Frisma hanya mengatakan “kak, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih atas semua yang sudah kakak berikan” :((
Lalu ada catur yang ngasih komentar di tulisan saya “bukan guru yadika”, namun karena kebodohan saya komentarnya ini terhapus dari email saya (catur maaf ya…)
Dan yang baru-baru ini saya terima adalah dari mas Hanifa. Blog-nya Mas Hanifa saya letakan di blogroll saya dengan tujuan untuk mempermudah saya melihat blognya. Saya mengetahui blog Mas Hanifa melalui blog a’donny, saya penasaran dengan judul blog “Mekah sebagai pusat bumi”. Isi blog Mas Hanifa benar-benar membuat mata saya terbuka, dan ternyata beliau memberikan komentar atas tulisan saya (komentarnya bikin saya GR hehehe). Sayangnya saya tidak dapat memberikan komentar saya untuk tulisan-tulisan Mas Hanifa, saya merasa terlalu bodoh untuk mengomentarinya.
Tulisan saya adalah tulisan sederhana dan lahir dari pemikiran yang dangkal, namun saya sunguh-sungguh ingin mengucapkan terimakasih atas semua dukungan yang diberikan selama ini.

Door Prize

Filed under: Uncategorized — dela at 8:54 am on Monday, June 9, 2008

Tanggal 31 Mei kemarin ada lomba net quiz di senayan. Memang sebulan sebelum lomba, pihak sekolah sudah menunjuk saya sebagai pendamping untuk peserta lomba. 2 hari sebelum hari H saya minta izin untuk tidak mendampingi 10 anak yang akan berlomba, alasannya gak jauh-jauh… kuliah. Hari itu kebetulan kelompok saya yang maju, nah dosennya ini tipe yang gak ngasi nilai kalo pas presentasi gak dateng, sialnya sekolah tetap menginginkan saya untuk mendampingi anak-anak… sigh, padahal waktu itu masih dongkol sama sekolah.

Dengan berat hati pada tanggal 31 saya datang kesekolah jam 6 pagi (anak-anak yang lomba sudah pada datang, saya suruh datang jam setengah 6 dengan prediksi mereka bakal telat, ehh malah saya yang telat… parah kan :p ). Untungnya hari sabtu jalanan tidak terlalu macet, jam 6.45 kami sudah sampai dilokasi.

Setelah mendaftar ulang kami duduk ditribun, yadika 8 dapat giliran pertama untuk cepat tepat tersebut, tinggal menunggu 310 perserta lainnya. Sambil menunggu saya iseng lihat-lihat bazar yang diadakan BSI (jadi inget masa kuliah). Setelah berjalan cukup lama rasa lapar mulai menyerang, setelah survei tempat ternyata tidak ada yang murah disenayan, rata-rata makanan per-porsi Rp. 15.000 (udah gitu porsinya dikit). Penjelajahan saya perluas keluar area gedung dan ketemu tukang lontong sayur… yang satu porsi cuma Rp. 6.000,- Horeee. Pas enak-enak makan salah satu murid saya “memergoki” suasana makan saya yang diemperan, gak tau deh apa yang dipikiran mereka, pokoknya saya makan murah dan kenyaaang (guru juga manusia).

Pada saat mendaftar saya diberi kupon yang katanya untuk door prize dengan hadiah motor (kirain hadiahnya pintu door=pintu, prize=hadiah, door prize=hadiah pintu). Pengennya sih dapat motor :) Saya sempat berkelakar dengan murid-murid “hari ini yang dapat motor saya… ntar motornya kita jual trus uangnya kita bagi rata” jelas anak-anak langsung bersemangat, duit getu loh… Hadiah yang dibagikan diawali dengan travel bag untuk 5 orang yang disponsori oleh salah satu bank swasta. Pembacaan nomor dilakukan dan setelah 3 nomor yang diumumkan, ehh nomor saya disebut, :D jadinya dapet travel bag deh.

Tadinya saya pikir saya adalah orang yang harus mendapatkan semuanya dengan bekerja (soalnya dari dulu gak pernah dapat hadiah dari undian). Ini door prize pertama saya… senangnya walaupun tak jadi dapat motor :)

Hasil lomba sudah jelas… gak menang. Saingannya anak Jakarta, Bogor, Tanggerang, Banten, Krawang, pemenang 1-5 SMA Negeri… Jakarta semua.
Oh iya tentang kuliah saya yang saya tinggalkan… ternyata dosennya gak masuk, jadi terselamatkan hihihi.

SmileyCentral.com

Tugas guru & dilema pendidikan

Filed under: Uncategorized — dela at 11:10 am on Saturday, June 7, 2008

Kalau mendengar profesi guru sekilas terlihat santai, jam 07:00 datang ke sekolah jam 14:30. Saya sendiri tidak merasa demikian, memang waktu mengajar kami hanya 7 1/2 jam tapi ada tugas administrasi yang harus dikerjakan misal periksa LKS, Periksa hasil ulangan, mempersiapkan soal, remedial, kalau dirata-rata saya sendiri pulang sekitar jam 4 tiap harinya. 2 bulan terakhir ini saya ikut mengambil akta, sialnya tiap pertemuan dosen-dosen saya seneng ngasih duit tugas dan rata-rata tugas yang diberikan tidak cukup dikerjakan dalam 1-2 hari. Pengumpulan materi bisa menghabiskan jadwal browsing seharian, belum ngetik paper dan buat persentasi di Power Point. Sebenarnya kalau saya ingin copy-paste tugas orang lain sah-sah saja masalahnya selama ini sumber copy itu saya, bingung kan.

Buat saya guru adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Saya sendiri sudah lupa kapan saya mulai menyintai pekerjaan ini. Saya tidak pernah mempermasalahkan nilai (walaupun sekolah mempermasalahkannya), goal saya adalah bagaimana caranya agar anak-anak berubah dari tiak bisa menjadi bisa, dari tidak biasa menjadi biasa, dari tidak tahu menjadi tahu, hal ini yang dalam bahasa pendidikannya dikatakan penilaian psikomotor, afektif, kognitif. Saya sendiri ingin memberikan nilai dengan cara mengira-ngira, tapi hati saya sendiri merasa cara tersebut tidak memeberikan dampak pendidikan. Insya Allah semua tugas yang diberikan anak-anak akan saya baca satu persatu. Banyak orang yang berkomentar bahwa gaji yang diberikan tidak sebanding dengan tanggung jawab yang dibebankan, saya tidak memungkiri hal ini, memang dinegara kita guru adalah jabatan yang tidak terlalu diperhitungkan, sangat berbeda dengan China, Jepang dan Amerika. Setelah perkuliahan pengantar pendidikan yang salah satu pembahasannya membandingkan sistem pendidikan dengan negara-negara lain terlihat gambaran negara maju identik dengan reward untuk guru yang tinggi, sedang negara-negara berkembang dan negara-negara tertinggal memiliki reward yang seadanya untuk guru.

Saya rasa banyak orang yang memahami perbadaan pengajaran dengan pendidikan. Mengajar membutuhkan waktu dan pikiran yang lebih sedikit dari pada mendidik, ironisnya semakin banyak tuntutan dari kurikulum pendidikan semakin dikesampingkan. Coontoh, dengan adanya UN para guru terfokus agar anak bisa lulus, persaingan yang ketat ini akhirnya melahirkan percontekan masal dan kecurangan “umum”. Bayangkan bagaimana seorang pendidik dapat ikut dalam percontekan masal tersebut?

Isu pendidikan gratis juga agak mengkhawatirkan saya. Kebanyakan sekolah yang berkualitas baik menetapkan biaya SPP yang lebih tinggi dari sekolah yang lain, salah satu alasannya adalah fasilitas mereka yang lengkap, perawatan terhadap fasilitas tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Contoh SMUN1 Bekasi menghabiskan 12 juta hanya untuk biaya listrik diluar lab komputer. Jika nantinya pendidikan gratis berapa banyak pemerintah mampu untuk mensubsidi sekolah dengan fasilitas yang lengkap?

Bukan maksud saya untuk menolak pendidikan gratis (hari gini saya juga mau yang gratisan), tapi pendidikan gratis yang dicanangkan oleh pemerintah hendaknya memenuhi standar yang baik untuk peserta didik. Kota Bekasi sendiri melarang adanya pungutan dari orang tua, sedang di Bekasi ini banyak orang tua siswa yang mampu dan mau untuk ikut menyumbang agar sekolah memiliki fasilitas yang baik. Entahlah saya sendiri tidak berani berkomentar banyak tentang ini.

Untuk saat ini saya tidak memiliki kemampuan untuk merubah sistem pendidikan yang ada saat ini. Menjadikan pengajaran sebagai bagian dari pendidikan sangat membutuhkan kerja keras dari semua pihak. Tetapi saya sungguh berharap bahwa pendidikan kita akan menjadi lebih baik.

Next Page »