Dela Luthu

Just another dagdigdug.com weblog

Diskusi di kuliah

Filed under: Uncategorized — dela at 12:43 pm on Friday, May 23, 2008

Kuliah aktaIV tidak sama dengan perkuliahan yang saya alami saat di UNIKOM. Kebanyakan dosen kami tidak memberikan ceramah saat mengajar, namun lebih banyak mengadakan diskusi atas permasalahan yang dipaparkan oleh dosen. Beberapa dosen tidak memberikan caramah namun memberikan bahan diskusi untuk disampaikan secara berkelompok. Saya bukan tipe orang yang suka berbicara dalam diskusi (tipe yang gak mau repot lah) tapi dibeberapa kesempatan saya ingin menyampaikan apa yang ada didalam benak saya. Anehnya setiap saya mengemukakan pendapat semua kelas langsung sunyi (padahal apa yang saya sampaikan biasa saja), nah melihat situasi kelas yang tiba-tiba sunyi dan tatapan mata dari rekan-rekan membuat konsentrasi saya buyar (padahal dari awal setiap pendapat tidak benar-benar diperhatikan oleh seluruh kelas), karena sudah terlanjur mengemukakan opini terpaksa saya harus terus meneruskannya. Ditengah kepanikan saya coba untuk mengingat “apa sih yang mau gue omongin?” ahirnya pembicaraan saya malah muter-muter gak tentu arah walaupun disaat terahir saya dapat menemukan kembali inti dari pembicaraan saya.

 Anehnya… setelah saya duduk teman-teman saya malah tepuk tangan HAH…?

Kaki Rusak

Filed under: Uncategorized — dela at 10:17 am on Friday, May 16, 2008

Semenjak masuk bangku sekolah seingat saya, saya tidak pernah memakai sepatu selain kets. Sekarang disaat mengajar saya juga masih merasa nyaman menggunakan sepatu kets (tapi kalo boleh memilih saya lebih merasa nyaman memakai sandal jepit :P) tapi entah kenapa ahir bulan april kemarin saya merasa “sebaiknya menggunakan sepatu yang lebih formal”. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa masukan dari rekan guru (yang paling ‘dalem’ waktu dibilang tidak meyakinkan sebagai perempuan) . Selesai mengawas ujian sebelum nonton Kun Fa Yakuun saya membeli sebuah sepatu berwarna putih yang terlihat “cewe banget”.

 Esoknya sepatu tersebut saya pakai mengajar, namun dua hari setelah saya pakai sepatu tersebut mulai lepas dibagian sol-nya (bagian kanan sepatu). Saya berusaha untuk mengakali dengan power glue, tapiii dua hari kemudian kembali lepas dibagian kiri sepatu. Lagi-lagi saya perbaiki dengan lem. Dan setelah seminggu dipakai, sepatu tersebut tidak dapat dipakai kembali. Saya kembali membeli sepatu “formal” lain, dan nasibnya tidak jauh berbeda dengan sepatu sebelumnya.

Saat menceritakan hal ini kepada teman saya mereka mengatakan ada beberapa rekan yang mengalami nasib seperti ini, sepatu yang mereka gunakan tidak bertahan lama. Memang saya tipe orang yang tidak bisa diam, cara berjalan saya juga cenderung cepat, tapi apa itu yang menyebabkan rusaknya sepatu saya? Setelah saya perhatikan teman-teman yang sepatunya awet memang cenderung kalem saat berjalan, langkahnya pun tidak terlalu lebar tapi kalau saya disuruh untuk merubah gaya berjalan saya kok rasanya jadi janggal ya….

Setelah dipikir-pikir mungkin bukan sepatunya yang mudah rusak, tapi kaki saya yang mudah merusakan sepatu. Sekarang saya kembali menggunakan sepatu kets, masalah formal atau tidak urusan nanti deh, kalo udah ditegur kepala sekolah baru saya berfikir untuk menggunakan sepatu formal lain.