Dela Luthu

Just another dagdigdug.com weblog

Hotel Rwanda

Filed under: films — dela at 8:28 am on Friday, August 8, 2008

Pertama kali saya dengar judul film ini dari oprah winfrey show, katanya film ini diangkat dari kisah nyata. Referensi bisa didapat dari sini.

Karena menyaksikan film tears of The Sun jadi inget film ini. Waktu liburan kemarin RCTI menayangkan Hotel Rwanda (perdana ditayangkan di TV). Ya akhirnya dibela-belain nonton sampai jam setengah 2 pagi. Dipostingan saya sebelumnya saya katakan bahwa saya bukan penggemar film perang , namun pesan kemanusiaannya yang saya cari. Kesimpulan yang dapat saya tarik ada dua. Pertama, perang dalam bentuk apapun (fisik, ideologi, dst) tidak saya sukai, namun jika memang diperangi berarti saya harus ikut berperang. Yang kedua, … ternyata saya senang nonton film ya :)

Membunuh atau dibunuh

Filed under: films — dela at 9:27 am on Wednesday, August 6, 2008

Tadi malam saya menyaksikan sebuah film yang ditayankan di salah satu stasiun televisi, Tears of the sun. Sebenarnya dari dulu saya kurang suka film perang dan Tears of the sun sendiri sudah sering ditayangkan dan saya tidak pernah menyaksikannya. Tapi tadi malam karena menuggu (rumah) ibu saya yang sedang pergi ke suatu acara saya iseng putar chanel televisi, semua acara yang ditayangkan tidak menarik untuk saya, entah sudah beberapa putaran saya lakukan. Sampai akhirnya saya jenuh dan menghentikan chanel di trans tv.

Karena nontonnya pas pertengahan jadi yang bisa saya tangkap dari film itu adalah suasana penyelamatan seorang dokter yang berkerja disalah satu negara di Afrika karena ada kudeta besar-besaran (pergantian rezim oleh pemberontak). Sang dokter tidak mau mengikuti tentara Amerika yang ditugaskan untuk menyelamatkan sang dokter karena dia tidak ingin pasiennya ditinggalkan dalam kondisi peperangan. Ahirnya para tentara, sang dokter dan para pengungsi berencana untuk meninggalkan negaranya melalui hutan. Ditengah perjalanan mereka melihat sebuah perkampungan sedang mengalami penyerbuan oleh tentara pemberontak, pemimpin tentara memerintahkan agar pasukannya bergerak untuk menolong warga yang diserang dengan serangan diam-diam. Singkat kata para pemberontak dapat “dihabisi” oleh tentara Amerika itu. Disinilah terdapat adegan yang menyayat hati, dikisahkan seorang ibu sedang menghadapi sakratul maut akibat payudaranya dipotong oleh tentara pemberontak, salah satu pengungsi mengatakan bahwa hal itu dilakukan agar sang ibu tidak dapat menyusui anaknya (digambarkan bayi si ibu tersebut sudah terbujur kaku, salah satu tentara Amerika meletakkan sang bayi disamping ibunya).

Miris… Dalam hati saya bertanya “sekejam itukah perang?” entah berapa banyak kebencian yang dimiliki oleh tentara pemberontak sehingga begitu tega melakukan hal sekeji itu. Tidak habis pikir jikalau masih ada orang/ negara yang sangat menginginkan perang saat ini. Saya adalah orang yang tidak begitu suka dengan perbedaan, jika ada orang lain berbeda pendapat saya cenderung diam dan tidak mau memulai perdebatan antara apa yang diyakini oleh orang itu dan apa yang diyakini oleh saya (kecuali masalah ketuhannan). Sempat terlintas pertanyaan “mengapa Allah tidak menciptakan umatnya tanpa perbedaan” namun dari apa yang saya tahu Rasulullah Muhammad saw sendiri pernah meminta agar umatnya dijauhkan dari perpecahan, dan menurut riwayatnya permintaan ini tidak dikabulkan oleh Allah swt.

Digambarkan pula pada akhir film tersebut, tentara Amerika diserang oleh tentara pemberontak yang jumlah dan amunisinya lebih banyak. Walaupun akhirnya tentara Amerika yang menang (seperti cerita lainnya) saya masih bertanya-tanya “jika saya dihadapkan dengan situasi tersebut, apakah saya bisa membunuh?” Jujur saya adalah orang yang penakut, jangankan manusia semut hitam (yang kalo gigit bentol-nya segede tutup botol) tidak berani saya bunuh. Dulupun sempat saya tidak berani menepuk nyamuk yang menggigit (sekarang sih tega, setelah bayak demam berdarah). Apa iya saya mampu membunuh? Jika saya boleh untuk tidak menjawab, saya tidak akan menjawab. Namun jika dihadapkan dengan pilihan dan situasi tersebut maka saya pilih membunuh.